Senin, 31 Juli 2017

Produk Gue Sampah!




Saya dulu awal-awal membuka bisnis Netepan Sajadah Denim rasanya optimis banget. Tapi ada yang ngeganjel saat pembuatan produk. Saya ga terlalu pede ngejualin produknya. Karena apa? Produk yang saya mau ga sesempurna apa yang saya bayangkan. Tapi karena perlu uang, yaaa jual aja. Dari pada numpuk jadi fosil purbakala.

Awalnya agak ga sempurna. Dari banyak sisi kurangnya. Setelah saya jual dan mendapat respon, ternyata ada yang puas dan bilang lucuuuuuu (sambil monyongin bibir ala-ala dedek emesh). Yaa tetap aja ada banyak kritik sana-sini. Tapi ada kepuasan saat orang lain puas.

Nyatanya rata-rata pengusaha pemula mengalami hal yang serupa. Produknya malu-maluin. Tapi, dari situ kita tau apa yang costumer mau. Sebenarnya mindset pebisnis itu harus menggunakan “kaca mata” costumer. Karena kita tidak bisa menyamakan apa yang bagus menurut kita belum tentu bagus meurut costumer.

Ini yang penting untuk para pengusaha pemula termasuk saya yang harus banyak belajar. Riset apa yang mereka inginkan, yang mereka tidak inginkan dan solusi apa yang mereka butuhkan. Ga sampai disitu juga. Termasuk apa yang mereka pikirkan, rasakan dan macam-macam. Makanya produk harus costumer sentris. Jangan menggunakan persepsi atau ego pribadi.


Bagaimana agar kita tau apa yang mereka inginkan? Bertanyalah. Gunakan data. Bisa juga lewat mengisi kuisioner, wawancara atau data yang melimpah di internet. Jangan sampai produk yang kita buat sangat keren dengan segala keunggulan dan keunikannya tapi tidak dibutuhkan costumer. Sekali lagi gunakan “kaca mata” mereka. Bukan menggunakan persepsi atau ego pribadi. Kalau dulu ngerasa produk sendiri kayak sampah, sekarang mah nyantai aja hehehe. Caw!

Selasa, 25 Oktober 2016

Kenapa Harus Fokus?

Jadi begini, semakin kita ga fokus, semakin ga ada  sesuatu yang kita kerjakan menjadikan kita AHLI di bidang itu. Kalau aku ditanya olah raga yang aku bisa apa? Banyak. Sepak bola, futsal, volley, bulu tangkis, renang, catur, basket, lari dan olah raga jari (ngetik). tapiiiiii, ga ada yang benar-benar jadi prestasi yang WAH. Walaupun pernah terbaik pemain basket se-SMP tapi ga pernah juara, pelari tercepat di SMA, juara 1 futsal di kampus, mentok juara 2 di kampung halaman dan top skor. Walaupun dengan begitu ga bawa ke tingkat yang lebih. Cuma gitu-gitu aja. Karena ga diseriusin. Abis ini pindah yang lain lagi.

Kemampuan design. Bisa juga. Corel draw, photoshop, editing video, photograpy. Internet marketing juga. social media strategy, facebook ads, instagram ads, youtube, blogger, marketing research, SEO (search engine optimation). Masih ada beberapa hal-hal yang bisa dilakukan. Kayak masak (bisnis kuliner gagal kayaknya karena ga enak -__-), ilmu NLP, buat business plan, psikologi terapan dan yang lainnya lah. Entar dikira sombong kalau disebutin semua.

Intinya begini, kelihatannya banyak hal yang aku bisa. Kelihatannya keren. Tapiiiiiiii, ga ada satupun yang benar-benar AHLI di situ.  Ga ada yang jadi master di bidangnya. Bukannya menyesali atau ga bersyukur. Ini adalah pelajaran semakin banyak hal yang kita bisa semakin ga ahli. Kita bukan superman. Kalau mau lihat para ahli lain yang keren banyaaak. Albert einstein di bidang fisika. Malah lebih spesifik teori relativitas, mekanika dsb. Ga semua bidang fisika apalagi bidang biologi.

Ini bukan membatasi kalau focus di satu bidang. Bukan. Malah membuka hal yang tak terduga lainnya. Kalaupun mau mengerjakan yang lainnya yaa sebatas “hiburan” untuk pengetahuan umum biar bisa nyambung diajak ngobrol orang lain. Tapi bukan buat ditekuni lagi. Bisa dilihat berapa banyak waktu yang dihabiskan hal itu. Kalau mau jadi penulis ya berjam-jam nulis, baca buku dan “membaca” sekitar. Jika musisi, setidaknya 8 jam sehari latihan. Begitu juga bidang lainnya.

Ingin bermanfaat banyak orang? Ya juga fokus. Jadilah pengacara yang ahli, petani yang ahli, pebisnis yang ahli, peneliti yang ahli, ilmuan yang ahli, internet marketer yang ahli, designer yang ahli dan bidang lainnya. Dan ingin dampak yang besar, BERKOLABORASI. Misal, ingin buat program sekolah gratis yang punya karakter. Ada penyokong dana dari pengusaha, bagian hukum yang bisa menjamin legalitas, pendidik yang punya metode modern untuk pengajar dan murid, “hantu” media social agar bisa kebaikan tersebar dan menjadi contoh, ahli management agar rencana berjalan baik dan aspek lainnya. Semuanya ngumpul jadi satu. Tinggal “kue” bagian mana yang mau kita ambil. Karena saat ini kolaborasi adalah cara baru untuk berkompetisi. Kira-kira begitulah.

Ga peduli juga orang lain udah samapi mana. karena kita ga tau juga udah berapa lama dia untuk sampai di sana. ga peduli juga momentum ketinggalan sama yang lain. biarkan yang lain jadi kutu loncat sedangkan kita hanya di satu hal. biar sampai akhirnya kita tuai. kita manfaatkan. untuk jadi ahli perlu 10.000 jam. stay focus.

Kertas yang terbakar karena kaca pembesar disebabkan oleh cahaya yang difokuskan. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pertanyaan-pertanyaan

Sebelum engkau lahir, masih di dalam rahim, kedua orangtuamu bertanya sambil mengelus-ngelus perut sang ibu
“apa jenis kelaminmu?”
“mirip ayahnya atau ibunya?”
“normal atau tidak?” atau apalah

Tapi jauh sebelum dari itu malaikat bertanya kepada Allah tentang engkau
"…Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?..."

Pada saat engkau sudah terlahir, bisa berlari, pandai berbicara dan mulai mengenal dunia. Orang-orang akan bertanya
“siapa namamu?”
“sekolah dimana?”
“suka main apa?”
“cita-cita kamu apa?”

Dan ketika kamu harus menentukan mau kemana arah hidupmu. Orang-orang terus bertanya
“kuliah di mana?”
“jurusan apa?”
“semester berapa?”

Ketika engkau menyentuh angka 20an. Pertanyaan mulai menyesakkan.
“kapan wisuda?”
“kerja apa?”
“kerja di mana?”
“kapan nikah?”

Mungkin akan berlanjut…
“anak sudah berapa?”
“anak sekolah di mana?”
Daaan banyak pertanyaan lainnya.

Hingga akhirnya tak ada lagi orang yang bertanya tentang engkau. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai saatnya sang malaikat yang bertanya…..
“Man Rabbuka? Siapa Tuhanmu?
“Man Nabiyyuka? Siapa Nabimu?
“Ma Dinuka? Apa agamamu?
“Man Imamuka? Siapa imammu?
“Aina Qiblatuka? Di mana kiblatmu?
“Man Ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Minggu, 03 Juli 2016

Pulang

Pulang kampung atau mudik sudah menjadi tradisi yang polpuler di Indonesia. Setiap hari raya idul fitri orang-orang berbondong-bondong pulang ke kampong halaman. Setelah mencari keberuntungan di tanah rantau. Entah itu yang kuliah, kerja ataupun memang karena tugas. Kalau boleh saya bilang, tanah rantau adalah tanah perjuangan. Berjuang demi pendidikan, ekonomi bahkan agama.

Pulang ke kampung halaman. Bagi para perantau, pulang seperti halnya mencari kedamaian. Bertemu kembali rindu-rindu yang selama ini terhalang oleh ruang dimensi. Pulang bertemu dengan keluarga tercinta, sanak saudara dan teman seperjuangan dulu. Pulang dari kebisingan kota kembali desa. Pulang kembali ke tempat kita dilahirkan. Kembali menjadi bukan apa-apa. Karena pangkat, jabatan ataupun gelar tidak banyak berpengaruh di sana.

Kadang tidak jarang para perantau membawa bekal sangat banyak untuk sanak keluarga. Hingga berkoper-koper, tas-tas dan kantong bawaan yang bejubel. Memang menyedihkan ketika pulang tak membawa apa-apa. Tanpa membawa sedikitpun oleh-oleh. Seperti tidak membawa hasil apapun.

Pulanglah. Kampung halaman kita yang sebenarnya adalah kampung akhirat. Kesana kita akan kembali. Dunia hanyalah tempat singgah. Hanya sementara untuk mencari bekal. Memang menyedihkan ketika pulang tanpa bekal. Tanpa “oleh-oleh” untuk kembali. Kita memang perantau di dunia. Semoga kita pulang dengan keadaan yang sebaik-baiknya. 

Rabu, 18 Mei 2016

Kopdar Akbar Yukbisnis Bali 2016

OPTIMASI TOKO ONLINE
Keringat Minimum, Penghasilan Maksimum
Masih banyak pebisnis online yang bekerja dengan cara seperti ini:

Sibuk membalas chat, tapi order tetap minim.
Punya toko online, seperti kuburan, sepi.
Sibuk mengecek pembayaran, yang tak kunjung datang.
Tak memiliki database konsumen.
Banyak kerja, sedikit closing.

Atau beriklan trial error, karena tak memiliki data analitik:

Berapa banyak pengunjung hari ini?
Berapa yang konversi?
Siapa saja profil pembeli?
Jam berapa sebaiknya beriklan?
Bagaimana beriklan yang tokcer?

Atau mungkin merasa waktu berjalan begitu cepat, sementara orderan tetap melambat?

Pengin berubah, tapi tak tahu apa yang salah?

Seperti masuk ke lorong yang gelap, menjalani kehidupan, tanpa harapan.


Perlu pencerahan?


Jika Anda mengalami gejala-gejala seperti diatas, setidaknya 3 poin saja, maka Anda perlu memperbaiki ‘skill dan tools’, antara lain:


Menata Toko Online agar nyaman dikunjungi.
Membaca dan menganalisa Data Analytic.
Mendalami strategi ‘Growth Hacking’ untuk Toko Online.
Otomatisasi Media Sosial dan Auto Responder.
Membangun dan mengelola database pelanggan.
Memanfaatkan Sumber Trafik yang tepat untuk mendatangkan pelanggan.
Memahami Bisnis Model, Partnership dan Investor.
Memilih aplikasi untuk mendongkrak produktivitas.

Tak usah takut dengan istilah-istilah diatas, karena prakteknya lebih mudah dibanding namanya. Asalkan tekun dan belajar kepada praktisi yang teruji.


Kesemua itu adalah fokus materi KOPDAR AKBAR YUKBISNIS 2016.


Jika tahun lalu, kebanyakan materi untuk calon pengusaha atau pengusaha pemula, serta durasi per pengajar hanya 2 jam saja…

Maka tahun ini, total pembicara hanya setengahnya saja, agar ilmu yang didapat lebih mendalam. Kelas pararel dipangkas menjadi 2 kelas: Menengah dan Lanjutan.


Tak usah khawatir, masih ada waktu bagi Anda untuk mengejar ketinggalan, sebelum Kopdar Akbar tiba..!!


---------------------------------------------------------------------------------


KOPDAR AKBAR YUKBISNIS 2016

Werdha Pura Beach Hotel,

Sanur - BALI


16 - 18 Agustus 2016


Pembicara:

Riyeke Ustadyanto - Ipaymu
Aulia E Rahmanto - Blanja.com
Rico Huang - Alona Gadget
Fahmi Hakim - Kelas BOS
Jaya Setiabudi - Yukbisnis.com
Rully Kustandar - Kebun Emas
Rendy Saputra - Keke Group
Zulqarnain Rosano - Iwearzule


daftar klik http://yuk.bi/t21f81

Selasa, 17 Mei 2016

Berfikir 500 Juta


Dulu, kira-kira setahun lebih yang lalu ketika masih jualan Ramen burger, gurunda sekaligus papah saya, mas Kukuh Indraprasena (manggilnya tetep pake ‘mas’ biar muda terus hehe tongue emoticon ) pernah bertanya kira-kira begini “ kalau kamu punya uang 500 juta buat bisnismu, kamu mau ngapain?” ya saya jawab “saya bakal riset dulu, mas, develop product, iklan yang kenceng, nyari lokasi yang strategis dll” pokoknya nyerocos tuh jawaban. Terus guru saya Tanya lagi “sekarang, kalau kamu punya uang untuk bisnismu ‘Cuma’ 5 juta, 500 ribu deh. Kamu mau ngapain?” terus saya diam sebentar sambil mikir dan ngomong dalam hati “duit segitu gimana caranya buat ngembangin bisnis?”. Karena kelamaan mikir, gurunda saya langsung berpesan “kalau kamu punya uang 500 juta dan kamu berfikir liar itu wajar. Tapi, bagaimana caranya dengan uang yang relative sedikit itu bisa berpikir seliar 500 juta tadi.”
Sampai hari ini pesan gurunda saya masih keingat kuat di otak. Walaupun diajarkan berfikir liar, action plan juga harus dibuat (kalau ini biasanya agak bandel dengan alas an dan penundaan). Jangan semuanya liar juga gitu. Selama saya menjalaniNetepan Sajadah Denim , saya coba menerapkan hal-hal yang belum saya fikirkan dulu. Di Netepan Sajadah Denim saya nyaris 0 (nol) rupiah dari uang pribadi untuk membangunnya . mulai dari akadnya bayar mudur dengan designer untuk logo sebelum logo yang sekarang ini, design sajadahnya juga, foto product, laptop dll. Kalau diuangkan lumayan gede jika dari kantong pribadi.
Luar biasanya kalau sharing sama gurunda mas Kukuh banyak hal yang di bahas. Mulai dari sharing masalah bisnis sampai masalah pernikahan juga hehe. Jadi belajar ilmu bisnis juga belajar ilmu kehidupan.

Minggu, 27 Maret 2016

Nasihat Bapak dan Bisnis

Tanggal 22 Agustus 2013 saya meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke bandung. Saya di bandung kuliah informal di YEA Indonesia. Kuliah bisnis. Sebelum saya pergi, bapak saya “Cuma” memberi nasihat sangaaaat singkat. “jangan lupa dzikir”. Iya Cuma itu. Seolah-olah saya dititipkan ke Allah, kalau ada masalah ke Allah aja. Karena bapak saya tau, di bandung sama sekali tidak punya saudara. Memang saya jarang dinasehati secara lisan. Nasihatnya lebih banyak ke teladan. Seperti mengajari sholat jamaah di masjid, kerja keras jam 2 atau 3 sudah di kebun, tanggung jawab pemimpin kepada “rakyatnya” karena bapak ketua RW dll. Hampir-hampir ga pernah dapet teori muluk-muluk dari mulut bapak saya. Yaaa kadang omelan dapet juga hehehe

Di bandung saya sudah beberapa kali menjalani bisnis seperti milk tea, jual tiket event, jual kaos, hijab dan ramen burger. Alhamdulillah semuanya tutup J. Secara financial mungkin saya rugi tapi ilmu dan pengalaman untung besar. Banyak pelajaran dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ada beberapa pengalaman pahit. cedera sedikit ga apalah. Toh jadi obat, kok.

Setelah 2 tahun merantau, saya ingat lagi nasihat bapak saya. Ya… jangan lupa dzikir. Awalnya saya kira dzikir hanya subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu akbar. Setelah belajar lagi, dzikir itu macam-macam. Sholat, ngaji, sabar, syukur, doa dll. Jadi pesannya yang dari jangan lupa dzikir jadi luas. Jangan lupa sholat, jangan lupa ngaji, jangan lupa sedekah, jangan lupa doa daaaaan seterusnya. Walaupun ibadah saya jauuuuuh dari kata bagus, tapi banyak keajaiban-keajaiban datang. Dari pas ga punya uang ehh ada yang traktir makan hehe, ga ada modal alhamdulillah ada yang modalin.


Akhirnya diajak buat bisnis lagi dan produknya sajadah denim. Kedengerannya keren dan setelah dihitung potensi pasarnya, langsung hari itu saya juga bilang, OKE. Saya juga yang jadi CEO-nya (chief everything officer hehehe). produknya sajadah untuk sholat tapi ini bahannya dari denim dengan brand Netepan. Arti netepan dalam bahasa sunda adalah Sholat. Targetnya untuk anak muda jelas. Mencoba mengajak anak muda terutama saya sendiri untuk “gaul boleh, tapi sholat ga boleh tinggal”. Itu tag line dari Netepan. Seperti nasihat bapak saya jangan lupa dzikir, jangan lupa sholat. Kalau kata mentor bisnis saya, bisnis itu bukan masalah untung dan rugi tapi surga dan neraka. 

Jumat, 18 April 2014

12 Maret

Alunan musik terus menggema dalam kekosongan. Ketika kekosongan menjadi teman terbaik. Bukan! Ini bukan tentang mengosongkan gelas, tapi lebih kepada kekosongan makna. Makna yang tak lagi bermakna. Ketika lentera jiwa tak bisa diraih. Ini yang dimaksud dengan kekosongan makna. Apa yang dilakukan ada dirimu di situ, tapi hatimu tidak hadir.

Mencintai bekerja dalam diam dan berjalan di jalan sunyi. Tanpa pujian sana-sini. Yaitu bekerja member makna. Bukan seperti alunan musik yang menggema dalam kekosongan. Hambar dan hampa. Mencintai makna, mungkin ini pekerjaan yang berat. Tapi, kau akan menikmatinya.

Ini tentang setelah kau. Apakah kau akan mewarisi keringat?
Apakah kau akan mewarisi makna?


Apa makna yang ingin kau beri?

Senin, 17 Maret 2014

Berkata Dalam Perbuatan

Kalau ngomongin keteladanan itu memang beret, ehh ringan aja sih sebenarnya. Tapi, implementasinya yang jadiin berat. Hmm… mungkin ngasih contoh emang gampang, yang jadi contoh itu susah. Harus istiqomah. Kalau di rumah, saya jarang banget dapet nasehat. Emang dasarnya ga suka dinasehatin dan keras kepala juga sih. Yang jelas orang tua saya ngasih teladan. Ini yang jadiin perbuatan sekaligus nasehat.

Banyak sekali nilai-nilai yang ditanamkan ke saya lewat perilaku orang tua ke saya. Salah satunya bapak saya tidurnya bentar doang. Mungkin 3 jam aja, kadang kurang. Jam 3 pagi udah mulai kerja lagi. Ya ini mengajarkan gimana kerja keras, rajin dan tanggung jawab sama keluarga. Kalau ibu? Kurang lebih sama. Ditambah sabarnya yang luar biasa. Apalagi anaknya yang susah dibilangin dan bandel banget hehe. Bapak saya ga ngerokok. Jadi, sekeluarga ga ada yang ngabisin duit karena benda ini. Ini alasannya kenapa saya keren *piiisss :v.

Salah satu kunci awet muda adalah murah senyum. Nah senyum hampir ke semua orang yang ditemui  dilakukan sama ibu saya. Sekarang jadi kangen senyumannya. Walaupun lagi capek, tetep aja senyumnya merekah. Karena fisiologi memang bisa mempengaruhi pikiran. Jadi, kalau ada masalah senyum aja dulu.

Baru-baru ini sebenarnya baru ngeh, untuk merubah orang lain, yang perlu dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri. Sebelum membuat orang disiplin harus diri sendiri dulu yang disiplin. Sederhananya begitu. Percuma juga nyuruh orang lain begini-begitu ternyata diri sendiri belum ngelaksanain. Percuma. Capek sendiri juga.

Keteladanan, ini yang saya sebut berkata dalam perbuatan. Tidak banyak bicara tapi banyak berbuat. Apalagi sudah banyak berbuat dan yang dibicarakan sesuai. Apa jadinya saya dilarang ngerokok tapi orang tua saya ngerokok? Bakal jadi omong kosong. Saya meyakini perbuatan baik itu menular. Tanpa banyak bicara, banyak berbuat. Menyampaikan kebaikan lewat bahasa perbuatan. 

Senin, 06 Januari 2014

Kalo ga Punya Pacar Terus Kenapa?

"lo ga punya pacar homo ya, angga?" hehe ada yang beri entah itu pernyataan atau pertanyaan ke saya seperti itu. agak lucu tapi saya tanggapin kalem aja sih. sebenarnya pacaran apa sih? hehe ini aktivitas apa? asalnya dari mana? ini aturan apa? eh stop dulu pertanyaannya. kenapa saya ga pacara? ini nih yang penting. kan kita semuanya mau dapet pasangan yang baik. jadi begini, laki-laki yang baik dapet wanita yang baik dan sebaliknya. logika sederhananya, kan saya mau dapet wanita yang baik jadi saya harus baik juga. tugas saya sekarang bukan nyari wanita itu tapi memperbaiki diri makanya ga pacaran dulu. pacarannya setelah nikah aja deh :)

"kan pacaran itu untuk saling mengenal" ada yang beri pernyataan lagi begini. kalo kata saya kan untuk saling mengenal bisa jadi teman aja. lagi pula pacaran itu ga diatur dalam urusan negara dan agama. kalo putus ga ada pembagian harta gono gininya hehe. kalo ada yang selingkuh ga apa dong, kan ga ada aturan yang jelas. di ktp pun ga ada status pacaran. kalo pacaran juga tidurnya masih sendiri dan sepi kok *eh. 

dengan ga pacaran menurut saya bisa memaksimalkan potensi diri kok. jadi waktu ga dihabisin buat hal-hal yang sia-sia sama sang pacar. apalagi kalo lagi ada masalah, galau berkepanjangan deh. dari susah tidur, susah makan sampe susah napas. ya ngabisin energi, duit juga *karena anak kost*. capek ah. 

banyak alasan pacaran itu karena cinta. tapi ada cinta yang terlupakan, yaitu ibumu, ibumu, ibumu kemudian bapakmu. untuk perhatain ke orang tua yang membesarkan penuh dengan cinta seharusnya kita lebih memperhatikan mereka. sayang juga kalo energi yang kita keluarkan ternyata bukan ke orang yang tepat. saya tidak pacaran dan saya bangga :)

Jumat, 22 November 2013

Menolong Diri Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti gerakan “berbagi nasi”, kegiatannya sekitar jam 10 malam kita bagiin nasi kepada orang-orang yang tidur di tepian jalanan, di atas jembatan dan orang-orang yang kerjanya di jalanan. Saya dan teman saya, samudra, tidak tau mengapa langkah-langkah kami begitu ringan untuk pergi menuju tempat berkumpulnya tim Berbagi Nasi. Setelah sampai di  TKP, saya dan samudra ikut “beraksi” untuk membagikan nasi dan air kepada target. Yang menarik dari berbagi nasi adalah dari nasi kita tau masalah-masalah yang nyata di sana. Dari cerita salah satu tim Berbagi Nasi kang fauzan, dia pernah menemukan bayi yang baru berusia 5 hari. Dan keadaanya sudah menguning.

Sebenarnya banyak cerita dari tim Berbagi Nasi, dari yang sakit, ibu yang hamil sampai bapak-bapak yang ingin pulang ingin membelikan kain kafan dan pulang kampung karena bapaknya meninggal tetapi tidak punya biaya. Ada yang menarik setelah kegiatan ini, kami yang baru bergabung diskusi kecil-kecilan. Kang danang mengatakan, “kita sebenarnya tidak menolong mereka, namun kita yang menolong diri kita sendiri” ada makna yang dalam dari berbagi nasi. Dari nasi ini kita belajar bersyukur, masih banyak yang perlu makanan.


Sebungkus nasipun tidak akan membuat mereka kaya, namun sebungkus nasi ini mengajarkan kita untuk berbagi. Dari sini kita belajar untuk menjadi orang kaya, maksudnya kita membiasakan untuk berbagi sebagai kebiasaan. 

Sabtu, 16 November 2013

Memiliki Indonesia

Kira-kira kalau kita punya rumah tetapi sangat kotor apa yang kita lakukan? Pasti membersihkannya kan?. Kok kenapa kita mau membersihkan rumah kita? Kan itu rumah sendiri. Karena kita yang punya rumah itu. Beda kalau itu bukan rumah kita, mungkin masa bodoh aja. Rumah yang kita tinggali, tempat kita berteduh, dan “surganya” kita ya mestinya harus dirawat dong. Ga mungkin dong rumah yang kita tinggal di situ kalau ada yang rusak dibiarin aja. Setidaknya sama-sama benerin rumah itu.

Saat ini “rumah besar” kita adalah Indonesia. Ya I-N-D-O-N-E-S-I-A. kita yang dilahirkan di tanah tercinta ini, kita yang minum air dari negeri ini, kita yang menghirup udara setiap saat dan mungkin kita yang akan kembali bersatu menjadi tanah kembali. Ya negeri kita saat ini memang sedang “kotor” dan banyak yang “rusak”. Namun kalau kita punya rasa memiliki Indonesia, maka kita akan bersama-sama membersihkan dan merawat Indonesia. Indonesia memang luas, kaya dan menawan. Kalau “rumah besar” kita ini bermasalah yaa setidaknya jangan jadi bagian dari masalah itu atau menjadi solusi itu jauh lebih baik.

Menjadi solusi itu sebuah keharusan. Apalagi pemudanya. Saat ini rakyat Indonesia masih banyak yang miskin, ya minimal kita tidak miskin. Kalau solusi saya jadi pengusaha, buat lapangan pekerjaan. Ini solusi pribadi saya. Sudahlah tak perlu mengecam keadaan lagi apalagi mengecam pemerintah. Mau menjadi bagian dari masalah atau solusi?! Sekali lagi, ini Rumah kita ayo kita yang merawat. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Memang Indonesia sedang “kotor” saatnya kita “menyapu”. Ayo buat gerakan #IndonesiaMenyapu. Eh buakan J. Maksud saya kalau menyapu itu lidinya harus banyak. Kalau lidinya Cuma satu ya kapan mau bersihnya?. Jika ada masalah dikerjakan keroyokan atau sama-sama pasti bakal lebih mudah. Kalau solusi saya dulu membuat komunitas dan sampai saat ini bergerak di pendidikan anak-anak. Ini sebuah usaha bersama teman-teman untuk memajukan pendidikan di daerah saya. Walaupun usaha kecil namun visi kami besar. Focus aja satu masalah kemudian cari solusinya dan yang penting bareng-bareng.


Indonesia mempunyai potensi yang besar, namun juga masalah yang besar. Sudah saatnya kita yang mengendalikan seluruh kekayaan negri ini. Karena kita yang memiliki Indonesia. Anak bangsa yang harus memilikinya bukan asing yang merebutnya. Ayo kita sama-sama memiliki Indonesia J

Jumat, 08 November 2013

Mental Kaya

Tentang mental kaya, ini bukan masalah materi atau cari mendapatkan materi. Ini tentang non materi tetapi sangat penting bagi kita. Saya bukan udah nguasain ini tetapi masih tahap belajar dan akan belajar terus tentang mental kaya. Mental kaya ini jauh lebih penting dari kekayaan itu sendiri. Dari sebagian kecil pengalaman saya, pengalaman orang lain dan dari buku-buku, mental kaya ini bukan haya milik orang yang punya kekayaan saja. Mental kaya harus dimiliki semua orang, dari yang miskin, yang dalam proses menuju kaya apalagi yang udah kaya secara materi. Menurut saya, ini beberapa mental yang harus dimiliki agar bermental kaya. Yuk lanjut

Yang pertama harus BERSYUKUR. Ini jurus yang sebenarnya bukan rahasia lagi tetapi kebanyakan dari kita (apalagi saya) sering lupa. Kalau mau itung-itungan, dari badan kita aja udah berharga banget. Coba berapa harga ginjal? Milyaran!!!  Itu baru satu organ. Belum lagi mata, jantung, hati, darah daaaaaaaaaaaaan masih banyak lagi. Ga bakal keitung berapa nominalnya. Mengutip dari ayat Al-Quran “nikmat Tuhanmu yang mana kamu dustakan”. Ga ada alasan untuk nyalahin keadaan kalau kita beralasan ga punya apa-apa. Toh kita ini kaya buaaaanget kok

Yang kedua MEMBERI. Ini adalah kebiasaan orang-orang kaya. Tau berapa sedekah Bill Gates? 266 Triliun!!! “wajar dong dia kan kaya” Mungkin ada respon sebagian orang seperti ini. Tapi coba liat seorang pemulung yang bernama Bu Sahati Wati yang menabung selama 7 tahun untuk bisa berkurban di hari raya Idul Adha. Saya sendiri malu melihat beritanya. Sekali lagi, mental kaya tidak memandang kaya atau miskin. Yang jelas member tak akan membuat kita menjadi miskin dan saya belum pernah melihat sejarahnya sedekah kemudian menjadi miskin.

Yang ketiga TIDAK MEMINTA-MINTA. Meminta-minta bukan kepada manusia ya, mintanya cukup kepada Yang Maha KAYA aja. Mau tau berapa penghasilan pengemis? Yuk itung-itung. Di Jakarta pengemis bisa melebihi gaji manajer. Yaaa bisa sampai 30 juta perbulan deh. Seger keliatannya. Menurut saya bukan masalah duitnya, tetapi cara mendapatkannya. Bermental kaya itu memberi, itu aja. Yaa kalau diberi ya terima aja, kan hadiah. Tetapi kalau ga diberi jangan mita-minta juga.


Yang keempat MENGHARGAI WAKTU. Nah ini, kesejahteraan Indonesia sangat berhubungan dengan orang Indonesia yang menghargai waktu. Lagi-lagi ini menurut saya, kalau warga Indonesia bisa menghargai waktu dan disiplin waktu bisa jadi kesejahteraan meningkat. Saya ngebayanginnya sih begitu. Sepertinya di Negara-negara maju waktu sangat dihargai eh bukan sepertinya tetapi memang. di jepang kalau telat malu sekali. Di eropa wahhh ga tau deh. Bukan bermaksud menjelekkan Indonesia, tetapi ayo sama-sama memperbaikinya. Yaa sudah, semoga kita bisa mengamalkannya. F!GHT *semangat membara*

Selasa, 20 Agustus 2013

Di Balik Permainan Uang

Melihat apa yang terjadi saat ini di mesir, tragedy kemanusiaan yang biadab oleh militer mesir. Saya mau mencoba membahas sedikit dari sisi yang berbeda, yaitu uang. Kenapa uang? Menurut hemat saya, peran uang sangat penting untuk mengontrol suatu Negara apalagi ditambah kekuasaan. Makanya sebaik-baiknya harta dikendalikan oleh orang yang beriman. Agar menjadi rahmatanlil’alamin. Yang terjadi saat ini ada uang di balik perang dan selalu ada uang di balik perang (meminjam kalimat pak @ahmadgozali). Kenapa demikian? Saat ini persenjataan yang paling berkembang adalah Israel dan amerika. Wajar aja kalau mereka ada “peran” dibalik kejadian di mesir. Israel peng-export persenjataan  terbesar ke-3 di dunia loh.

Melihat potensi-potensi yang dimilki oleh mesir dilihat sebagai peluang yang besar untuk meraup keuntungan secara financial. Ditilik dari sejarahnya yang panjang dan situs peninggalannya. Ini aset dunia. Banyak peninggalan sejarah yang sangat berharga. Bisa dijadikan penghasil uang nih. belum lagi terusan zuez yang sangat strategis. jalur terusan suez ini penting sekali sebagai jalur eropa-asia. Sebelum adanya terusan suez kapal-kapal harus berputar melewati benua afrika. Harus memerlukan biaya, jarak dan waktu lebih. Kalau negri paramida ini berada di tempat yang ga strategis, mungkin aja ga di “jamah” sama amerika dan israel. Terbukti dari  “Perang Enam Hari Israel pada tanggal 9 Juni 1967 kembali menguasai Suez (silakan digoogling). Menurut saya kalau ga ada menghasilkan uang ga disentuh.

Itu dilihat dari Negara mesir. Bagaimana dengan Indonesia? Walaupun beda kondisi, tetap aja uang yang bermain disini. Coba perhatikan barang-barang popular yang kita guanakan dan konsumsi. Ada produk dalam negri? Sangat sediki!! Padahal kualitas produk Indonesia ga kalah bagusnya dengan produk luar negri. Yaa kan ada permainan (menurut saya). ehhh ini baru produk loh. Belum lagi pengaruh gaya hidup yang hedonis agar produk mereka laku di Indonesia. Eh iya pengaruh media (“pesanan”) sangat kuat untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Misalnya lewat sinetron-sinetron yang ga bermutu, music, idola luar negri dan banyak lagi. Negara Indonesia hanya di jadikan PASAR bukan INDUSTRI. Wajar aja produk-produk luar negri buaaaanyak bertebaran di dalam negri. Kalau Indonesia sebagai industrinya yang jelas kita yang lebih banyak menguasai negri sendiri bahkan mengekspor juga.

Naah… solusinya seperti yang saya tuliskan di atas, sebaik-baiknya harta dikendalikan oleh orang yang beriman. Umat muslim yang menguasai semuanya. Umat muslim harus kaya. Kaya harta, kaya hati, kaya ilmu, kaya apa aja deh yang baik-baik. tetapi saya bahas fokuskan ke kaya harta di sini. Kaya yang lain sangat penting tapi masalah harta juga penting, jangan dipisahkan juga. Walaupun kita belum bisa menguasai di bidang ekonomi, setidaknya diniatkan dulu (saya juga belum bisa makanya saling mengajak). Kalau ga bisa sendiri ya rame-rame (berjamaah). Dengan kekuatan ekonomi yang solid umat muslim bisa mengendalikan dunia kearah kebaikan. Makanya harus umat muslim yang mengendalikan. Seperti ketika zaman rasul pasar dan sumber air di kuasai oleh yahudi. Apa kata rasulullah? Bukannya membiarkan dan berkata “ga apa mereka yang menguasai dunia kita focus ke akhirat saja” tidak! Malahan sahabatnya diperintahkan untuk merebutnya (dengan cara yang baik).

Uang sebenarnya bersifat netral. Bisa jadi kebaikan atau keburukan tergantung siapa yang memegangnya. Sepertihalnya pisau bisa bermanfaat bisa mudharat. Muslim harus kuat. kuat secara fisik, kuat secara mental, kuat secara pertahanan Negara dan juga kuat secara financial. Karena apa? Orang yang kelaparan mudah diiming-imingi agar menggadaikan hal yang berharga. Anda taulah apa yang saya maksud. Yang kuat keyakinannya sih ga masalah. Makanya kita harus cerdas dan melek financial. Sekian corat-coret ngalur ngidul saya. semoga kita bisa makin bersatu dalam barisan yang kokoh.

Selasa, 04 Juni 2013

Berbagi Itu Mudah


Saya teringat pesan guru saya yang pernah menyampaikan sebuah hadist yang sangat menggetarkan jiwa, raga dan seisi galxy bima sakti J. Hadistnya berbunyi “ jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh” (HR. muslim)

Kemudian guru saya melanjutkan perkataanya sambil melihat kami dengan tatapan yang penuh kasih sayang. aheeeey  “Kalau kita mati kita mau bawa apa?” tanya beliau. Dilanjutkannya lagi “ sedekah jariyah kita sebanyak apa? Udah bangun masjid? Udah bangun sekolah berapa? Udah bangun jalan seberapa panjang?” kamipun terdiam mendengarnya. Sedikit sekali rasanya sedekah kami. Belum lagi kalau niatnya ga lurus, kacau. Udah sedikit ga ikhlas lagi, waduuuuh. Pertanyaan yang timbul dipikiran saya ketika mendengar itu. Yang bagus sih sedekah banyak dan ikhlas (yukk belejar :D)

Guru saya lanjutkan lagi perkataanya “doa anak yang sholeh? Nikah aja belom (ini sebenarnya #kode biar saya cepet nikah hehe). Jadi anak sholeh/ah sebenarnya bentuk nyata cinta kita kepada orang tua kita. yuk doakan doakan orangtu kita J

Dengan semangat 360, guru saya melanjutkan kembali (kok semangat 360? Karena 8 kali lipat dari semangat 45 dan tekad yang bulat muehehe) “ nih ilmu yang bermanfaat, mumpung masih muda. Tenaga masih kuat, belum banyak tanggungan. Sebarkan ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya”. Tanpa komando kamipun mengengguk-angguk seraya mengiyakan.

Untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat sebenarnya sekarang relative lebih mudah. Dengan semakin cepatnya informasi dan kemajuan teknologi, kita bisa dengan mudah menyebarluaskannya. Contohnya lewat media sosial, seperti facebook dan twitter. Kalau kita punya 1000 teman di facebook dan menuliskan ilmu yang bermanfaat, maka 1000 orang mendapatkan manfaat dari tulisan kita. mudah kan? Dari pada buat galau ga jelas atau maki-maki mending untuk berbagi ilmu. Kalau narsis sedikit ga apa kali ya hehe. Sama juga dengan di twitter, kalau ga tau mau nulis apa yaa tinggal nge-retweet akun yang bermanfaat. So simple

Yaa begitu mudahnya untuk berbagi ilmu di era sekarang, tapi juga begitu mudah berbagi kegalauan di media sosial. hati-hati. Bisa juga kita menulis di blog atau buat video tutorial berhijab di youtube, contohnya. Ayo menebar manfaat dari mana saja dan dari apa yang kita punya. Kalau menyebarkan ilmu atau sedekah dengan berjama’ah wiiiiihhh powerfull banget ini. Ini solusi kalau ga bisa sendiri ya rame-rame. Kolaborasi. Ayooo mulai berbagi :D

mau berinterksi? Boleh ke akun @nggabp

Senin, 03 Juni 2013

Asiknya ke Landak



Beberapa hari yang lalu saya dan kawan-kawan yaaa boleh la dikatakan berpetualang ke kabupaten Landak. Petualangan kami itu hanya 2 hari saja. Tapi, banyak yang unik yang saya liat dari kabupaten ini. Walaupun Cuma sebentar sih petualang di sana. Saya mau menyampaikan sebagian kecil keunikan yang saya lihat secara langsung di hari pertama aja ya. Karena hari pertama kami melewati “jalur belakang” untuk samapai di kabupaten landak ini dan hari kedua ituuu penuh tantangan dan perjuangan. Kalau hari kedua ini kami melalui “jalur depan”. Yaaa nanti tau sendiri apa maksudnya

Oke. Perjalanan di mulai dari Pontianak melewati jalan 28 oktober dan jalan berbatu. Saya membayangkan nantinya akan melewati jalan aspal yang mulus. Ehh taunya ga ada sama sekali. Yang ada Cuma jalan berbatu, tanah merah yang licin karena habis hujan dan jalan semen seadanya. Bahkan untuk jalan semen saya sempat mengukurnya. Lebarnya ada yang 2 jengkal dan 3 jengkal aja (nah coba ukur ya J). Ternyata setelah melewati jalan yang penuh gejolak (hehhe agak lebay), kami harus melewati sungai dengan berenang dan tenggelam bersama motor-motor. Ga sampe berenang dan tenggelam juga sih, di sana udah tersedia TAXI. Ya beneeerr taxi. Tapi taxi ini motor air. Saya pun heran kok di kasi nama taxi. Hmmm

Yeeeyy akhirnya kami naik taxi alias motor air untuk menuju landak. FYI aja, sungai ini adalah perbatasan antara kabupaten kuburaya dan kabupaten landak. Makanya saya katakan ini “jalur belakang” karena ga ada tulisan “selamat datang di kabupaten Landak” J. Setelah turun dari taxi, perjalanan masih dilanjutkan dan kami disambut dengan hujan yang cukup lebat. Mungkin kedatangan kami diberkahi hehe. Jeng jeng jeeeeng ternyata di sana masih alami dan asri buangget. Terlihat beberapa pepohonan karet sebagai mata pencaharian masyarakat setempat.

Daaaan akhirnya sampe juga di tempat tujuan di sore hari. Ketika sampai, saya seolah-olah terlempar jauh belasan tahun kebelakang ketika masih kecil. Rumah-rumah jaraknya sangat jauh. Yang terdekat Cuma ada 2 rumah aja. Ketika malam hari jalan-jalan sanat sepi, terdenganr suara-suara binatang khas malam dan suasana sangat dingin karena masih banyak pohon dan habis hujan. Jangan tanya di sini ada super market, warnet dan tempat karoke? Lah sinyal aja susah!. Tapi, di sini uenak banget untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk di kota. Rasanya damai, udara masih segar dan ada kembang desa (eh aduh ketahuan nih :p )

Yap… kesokan subuh. Udara segeeerrr banget dan dingin kayak di kutub utara (tiba-tiba badan beku). Pagi ini nih yang seru nih. KITA KELILING KAMPUNG *teriak pake TOA. Sebenarnya mau main-main ke tempat saudara taman saya ehh di sana ada sampan juga, nganggur lagi. Daaan akhirnya nyampan juga. walaupun ngajak anak kecil nyuruh dayung (maklum ga bisa ngedayung sampan, trauma tenggelam nyampan juga sih hehe). *pesan moral : jangan main sampan tanpa didampingi orang yang ahli. Catet nih. abis nyampan kami kembali ke tempat asal nginap tadi malam ( sambil liat kanan kiri, sapa tau ada kembang desa hehe).

Ehh eh eh… kok ada yang aneh ya? Kok ga ada anak sekolah yang lewat sih? Setelah saya tanya-tanya, ternyata mereka masuk siang. Ohh kok gitu ya? Karena di sini kekurangan tenaga pengajar dan kebanyakan pengajarnya noreh karet dulu (bahasa indonesianya noreh apa ya?). dan uniknya di sini ga terlalu penting seragam sekolah yang penting sekolah!. Walaupun banyak yang udah pake seragam sekolah tetapi ada yang masih pake baju pramuka (ini hari senin loh). Ada juga yang Cuma pake sandal jepit. Wahhh saya tersentuh melihat semangat mau belajar mereka walaupun dengan segala keterbatasan mereka. Yang uniknya lagi nuansa relijius di sini masih sangat kental. Terlihat dari anak-anak yang berangkat sekolah yang masih menggunakan kopiah dan jilbab. Di keseharian mereka juga seperti itu. Bahkan yang laki-laki dan perempuan masih banyak yang pake sarung. Unik kan? :D

!Cemungudh
@nggabp